Apresiasi Sajak Pulang Karya Zhavier
Oleh
Indra Intisa
#KAWACA.COM ~ Membaca
sajak-sajak pendek, mau tak mau kita harus memiliki akal dan insting yang lebih
luas. Sajak pendek biasanya di isi oleh diksi dan simbol yang benar-benar
padat. Semuanya adalah kata konkret. Harus dihitung dan disimak dalam-dalam
supaya pesannya benar-benar meluas.
Di luar sana--di
Jepang, puisi-puisi yang terkenal justru adalah puisi pendek tradisionalnya.
Seperti haiku dan senryu. Pendek yang diatur ketat, baik jumlah larik, bait, unsur-unsur
kigo, zen, dst., merupakan cermin dan wadah yang menjadikannya
khas--keperbedaan dengan puisi lain--tentu juga sebagai penguat puisi pendek
tersebut. Di Indonesia ada pantun, pemanfaatan jumlah kata, rima, larik, bait
dan sampiran benar-benar menjadikanya khas dan indah. Tetapi puisi-puisi pendek
ini tentu berbeda dengan puisi pendek modern.
Sajak modern yang
tidak terikat oleh batasan, tentu mampu memberikan ruang pilihan yang bebas
bagi penyair untuk menuliskan idenya. Beberapa sajak ditulis lebih panjang,
sebagian lagi ditulis lebih pendek. Masing-masing punya kelebihan yang berbeda.
Khusus sajak pendek, tentu penyair harus mampu mematangkan setiap kata, simbol,
tanda baca, atau apa saja yang terdapat di dalamnya supaya menjadi kuat dan
benar-benar terpilih.
Salah satu sajak
pendek yang menarik perhatian saya kali ini adalah sajak pendek milik Zhavier.
Sajak ini ditulis di beranda Facebooknya, tanggal 11 Maret 2017. Mari kita
simak:
PULANG
Hujan deras
di tengah sawahmu
Bangkalan, 2017
Membaca dan
menyimak sajak di atas, sedikit banyak mengingatkan kita akan sajak pendek
fenomenal milik Sitor Situmorang, yaitu: Malam Lebaran". Kenikmatan puisi
Malam Lebaran tidak terletak pada pendek dan padatnya saja, tetapi pada
ketidaklogisan--kontradiksi antara isi dan judul. Berbeda dengan itu, sajak
"Pulang" milik Zhavier tidak memberikan kontradiksi yang serupa,
tetapi sebuah penjelasan yang butuh renungan dalam-dalam. Renungan ini
dicitrakan dengan beberapa citraan, yaitu: citraan gambar (visual), pada bentuk
hujan, wajah sawah. Kemudian citraan gerak pada gerak hujan. Lalu citraan bunyi
dari suara hujan. Terakhir ada citraan rasa pada gigil, dingin, dan rasa ketika
ditimpa hujan, pun emosi di dalamnya. Citraan-citraan ini menjadi simbol dan
kata konkret untuk menunjang pesan dari sajak tersebut.
Sajak ini sengaja
mengaktifkan imajis pembaca. Sekalipun tidak ada pemanfaatan personifikasi
sebagai pembangkit metafor seperti pada banyak aliran imajis. Apa yang bisa
kita bayangkan dari judul, isi, citraan, dan simbol di puisi tersebut? Tentu
awalnya satu-satu, kemudian melebar, lebar dan meluas.
Hujan deras bukan
berarti sebagai pengandaian sedih, sekalipun banyak orang memaknakan sedih.
Hujan bisa saja sebagai penanda kesuburan, sekaligus musibah dari akibat. Jika
hujan terjadi di tengah sawah, apa yang kira-kira bisa kita rasakan, lihat dan
dengar? Sawah makin berair, bisa saja melimpah menimpuk padi-padi. Pematang
jadi licin. Jalanan becek. Hijau alam tertutup oleh hujan. Tentunya bercampur
dengan suara hujan. Di mana tempat berteduh? Tentu hanya ada satu, sebuah
pondok di tengah atau tepi sawah. Selebihnya hanyalah area kosong. Jika begitu,
hujan otomatis akan mengenai kita tanpa sempat berlindung?
Secara kasat mata,
kita bisa saja menangkap imajis sajak itu sesuai dengan penjelasan di atas.
Disangkutpautkan dengan judul pulang, tentu saja kisah di dalam isi adalah
sebuah tragedi dan drama di sebuah desa. Karena kata pulang di sini, bisa saja
bermakna dua. Pulang dalam artian meninggal dunia. Dan pulang dalam artian
kembali dari rantau. Kita ambil saja pilihan kedua, dari rantau. Jika begitu,
sawah adalah sebuah historis yang ada di sebuah desa. Jadi, penyair sangat
rindu akan kampung halamannya. Sedang ia merantau ke kota. Bukan begitu?
Tapi kita tidak
bisa terburu-buru menyimpulkannya begitu. Mari kita simak dan perhatikan kata
ganti "mu" di penutup sajak. Kata "sawahmu", menandakan isi
yang disampaikan bukan sebuah historis dari keadaan desa yang sesungguhnya.
Tetapi sebuah keadaan dan keberasaan dari seseorang--bukan aku lirik--yang
dikiaskan dalam keadaan sawah dan hujan (sebuah desa musim hujan, musim subur).
Tetapi hujan di sini bisa saja bermakna kesedihan jika terkait ke dalam judul
(pulang). Sedang sawah adalah area kerja, tempat yang dicangkul, yang diolah,
tetapi belum selesai. Kata "di tengah" bisa sebagai penanda bahwa
perkejaan (rantau) baru setengah jalan.
Sajak di atas
mengingatkan kita akan orang-orang rantau yang belum berhasil. Orang-orang yang
sedang berusaha payah, kerasnya hidup di dunia rantau, ingat akan pulang
(kampung halamannya). Mau pulang, mau kembali, apa daya keberhasilan belum
tercapai.
Karena puisi ini sifatnya prismatis,
kita sah pula menelaah dari pilihan pertama tadi, yaitu pulang yang bermakna
meninggal dunia. Tergantung sudut pandang, suasana dan emosi pembaca saat itu.
Maret 2017
Indra
Intisa, lelaki yang sangat produktif dalam menulis, baik puisi, esai, maupun
cerpen. Sejumlah buku telah lahir dari tangannya, Panggung Demokrasi (2015), Nasehat Lebah (2015), Ketika Fajar (2015),Teori dan Konsep (Puisi Tiga Kata, 2015), Dialog Waktu (2016), Dunia dalam Sajak (2016), Sang Pengintai (2016),
serta Sungai
yang Dikencingi Emas (2017). Ompi -biasa dipanggil- juga menyukai
dunia musik, kini bekerja sebagai PNS, dan tinggal di Sumbar.